Yogyakarta – Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang menyelenggarakan Rapat Kerja Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Tahun 2026 pada 26–27 Juni 2026 di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Yogyakarta. Mengusung tema “Refleksi AUM, Akselerasi Mutu Layanan Pendidikan”, kegiatan ini diikuti oleh 141 peserta yang terdiri atas unsur PDM, Majelis Dikdasmen dan PNF, serta kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Magelang sebagai forum strategis menyusun arah kebijakan pendidikan Muhammadiyah menghadapi Tahun Pelajaran 2026/2027.
Dalam sambutannya, Ketua PDM Kabupaten Magelang, Drs. Nasirudin, M.A., mengawali arahannya dengan mengajak seluruh peserta menjadikan Rapat Kerja sebagai bagian dari ikhtiar yang dilandasi ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana pesan dalam Surat At-Thalaq ayat 1–2. Menurut beliau, setiap amanah dalam mengelola pendidikan Muhammadiyah harus dilaksanakan dengan berpegang teguh pada tiga prinsip utama, yaitu Kesungguhan, Keikhlasan, dan Kekompakan (K3).
Beliau juga menegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah memiliki tanggung jawab membangun manusia secara utuh melalui tiga ranah utama, yaitu hati sebagai penguatan akidah dan akhlak, otak sebagai pengembangan ilmu pengetahuan, serta tangan sebagai pembentukan keterampilan dan kompetensi. Ketiga aspek tersebut harus berjalan seimbang agar sekolah Muhammadiyah mampu melahirkan generasi beriman, berilmu, sekaligus memiliki kecakapan menghadapi tantangan zaman.
Terkait pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Drs. Nasirudin mengajak seluruh kepala sekolah melakukan refleksi terhadap kondisi sekolah masing-masing. Menurutnya, terdapat tiga kategori sekolah, yaitu Bugar, yakni sekolah yang siap berkembang dan mampu mengikuti perubahan zaman; Sehat Menuju Bugar, yaitu sekolah yang terus berbenah menuju peningkatan mutu; serta Sakit Menuju Sehat, yaitu sekolah yang membutuhkan pendampingan dan percepatan pembinaan. Apapun kondisinya, seluruh sekolah diharapkan terus bergerak maju dengan semangat K3 sehingga Allah SWT memberikan jalan keluar dan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka.
Pada sesi Penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Drs. Sugiono menegaskan bahwa AIK merupakan ruh sekaligus pembeda utama pendidikan Muhammadiyah. Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk karakter Islami yang berkemajuan. Nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus menjadi budaya sekolah, tercermin dalam kepemimpinan, proses pembelajaran, pelayanan kepada peserta didik, hingga perilaku seluruh warga sekolah sehingga Amal Usaha Muhammadiyah benar-benar menjadi pusat dakwah melalui pendidikan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Agus Suroyo, M.Pd. yang mengangkat tema “Peta Persaingan dan Kapasitas Pendidikan Kabupaten Magelang”. Berdasarkan analisis data BPS Tahun 2025, beliau menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat akibat perubahan demografi, persebaran peserta didik, serta meningkatnya kompetisi antar satuan pendidikan.
Dinamika peta pendidikan di wilayah Magelang saat ini tengah menghadapi pergeseran lanskap yang cukup signifikan, mulai dari persaingan ketat hingga ancaman efisiensi lembaga. Berdasarkan data visual yang dihimpun dari materi Dr. Agus Suroyo, M.Pd., sektor Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kini berada dalam kondisi red ocean akibat surplusnya jumlah lembaga yang jauh melampaui kuantitas peserta didik, dengan rasio rata-rata yang sangat minim, yakni hanya 27 siswa per lembaga. Kondisi kontras justru terlihat pada tingkat dasar, di mana terjadi anomali menarik yang memperlihatkan skala rata-rata Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan 198 siswa mampu mengungguli Sekolah Dasar (SD) umum yang hanya mencatat rata-rata 148 siswa. Sementara itu, dominasi kuat sektor vokasi kian tak terbendung setelah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sukses mencatatkan konsolidasi pasar terbaik sekaligus menjadi institusi dengan skala rata-rata terbesar di Magelang, yakni mencapai 445 siswa per sekolah. Di balik angka-angka pertumbuhan tersebut, lampu kuning penutupan tetap membayangi dunia pendidikan setempat melalui Risiko SPMB (Seleksi Penerimaan Murid Baru); lembaga-lembaga dengan populasi yang sangat kecil—khususnya pada jenjang TK, RA, dan MA—kini dihadapkan pada ancaman nyata berupa opsi penutupan atau merger jika gagal memenuhi kuota minimum siswa.
Beliau juga memaparkan terjadinya pergeseran struktur demografi pendidikan, di mana jumlah peserta didik mengalami penurunan mulai dari jenjang PAUD hingga pendidikan menengah. Fenomena ini menyebabkan kompetisi penerimaan peserta didik baru semakin tinggi dan menuntut sekolah untuk memiliki nilai unggul yang mampu menarik kepercayaan masyarakat.
Lebih lanjut, Dr. Agus Suroyo menjelaskan hasil pemetaan persaingan pendidikan yang menunjukkan adanya beberapa wilayah dengan tingkat kejenuhan lembaga pendidikan yang tinggi, sementara wilayah lain masih memiliki peluang pengembangan. Oleh karena itu, setiap sekolah Muhammadiyah didorong memiliki strategi yang berbeda sesuai karakteristik wilayah, potensi masyarakat, serta kebutuhan peserta didik.
Sebagai langkah strategis menghadapi kondisi tersebut, beliau merekomendasikan agar sekolah Muhammadiyah memperkuat diferensiasi layanan melalui peningkatan kualitas akademik, penguatan karakter Islami, digitalisasi layanan pendidikan, inovasi pembelajaran, penguatan branding sekolah, serta membangun kemitraan dengan masyarakat. Sekolah tidak cukup hanya menunggu peserta didik datang, tetapi harus mampu menghadirkan layanan pendidikan yang unggul, relevan, dan dipercaya masyarakat.
Pada malam sarasehan, Bupati Magelang Bapak Grengseng Pamuji menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah atas kontribusinya dalam memajukan pendidikan di Kabupaten Magelang. Beliau mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap pengelolaan anggaran pendidikan agar setiap kebijakan benar-benar berdampak pada peningkatan mutu layanan dan kepercayaan masyarakat.
Bupati juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan kompetitif melalui pembinaan bakat serta minat peserta didik secara berkelanjutan. Selain menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak putus sekolah agar tetap memperoleh kesempatan belajar, beliau menilai kehadiran parameter seperti Rapor Pendidikan dan Asesmen Nasional penting untuk mengukur mutu pendidikan secara objektif.
Mengakhiri sambutannya, Bupati Magelang menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Muhammadiyah atas dedikasi dan kontribusinya dalam membangun pendidikan di Kabupaten Magelang. Beliau mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam forum Rapat Kerja tersebut, bahkan setelah mengikuti agenda rapat paripurna, merupakan bentuk penghormatan sekaligus keinginannya untuk belajar dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah yang dinilai berhasil membangun budaya pendidikan yang unggul, mandiri, dan berorientasi pada mutu. Beliau berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Magelang dan Muhammadiyah dapat terus diperkuat untuk bersama-sama menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan mampu mencetak generasi masa depan yang berdaya saing.
Pada sesi Arah Kebijakan Majelis Dikdasmen dan PNF, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Magelang, Drs. Muh. Rofi, M.Pd., menyampaikan arah kebijakan pendidikan Muhammadiyah Tahun Pelajaran 2026/2027 yang berfokus pada sinkronisasi program sekolah menuju Pendidikan Muhammadiyah Berkemajuan. Beliau menegaskan pentingnya keselarasan program seluruh sekolah dengan kebijakan Persyarikatan melalui penguatan tata kelola, strategi pertumbuhan sekolah, tertib administrasi, peningkatan mutu layanan, pelaksanaan enam program prioritas Majelis Dikdasmen, hingga pencapaian target mutu (KPI) tahun 2027.
Rapat kerja ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi bagi seluruh kepala sekolah Muhammadiyah Kabupaten Magelang untuk menyusun langkah-langkah strategis menghadapi perubahan dunia pendidikan. Seluruh peserta sepakat bahwa tantangan pendidikan tidak dapat dihadapi secara individual, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara Majelis Dikdasmen dan PNF, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pemerintah Kabupaten Magelang, kepala sekolah, guru, serta seluruh pemangku kepentingan.
Mengakhiri kegiatan, Ketua PDM Kabupaten Magelang kembali mengingatkan pentingnya menjaga semangat Kesungguhan, Keikhlasan, dan Kekompakan (K3) dalam setiap ikhtiar memajukan pendidikan Muhammadiyah. Dengan fondasi ketakwaan, penguatan nilai-nilai AIK, analisis kondisi pendidikan yang berbasis data, dukungan Pemerintah Kabupaten Magelang, serta arah kebijakan yang terintegrasi, diharapkan sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Kabupaten Magelang semakin adaptif, unggul, dan mampu memberikan layanan pendidikan yang bermutu bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan.